Selasa, 07 April 2020

Teori Belajar Behavioristik

-Teori Behavioristik-

1.    Hakikat Teori Belajar Behavioristik
    Teori berbicara mengenai pengembangan ide ide yang membantu dalam menjelaskan bagaimana dan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Teori diartikan sebagai kumpulan prinsip prinsip (principles) yang di susun secara sistematis. Prinsip tersebut berusaha menjelaskan hubungan hubungan antara fenomena-fenomena yang ada setiap teori akan mengembangkan konsep-konsep yang digunakan sebagai simbol fenomena tertentu. 
   Adapun belajar adalah sebuah proses perubahan didalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut di tampakan dalam bentuk peningkatan kwalitas dan kwantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasan, pemahaman, ketrampilan daya pikir, dan kemampuan kemampuan yang lain. 
    Jadi teori belajar adalah suatu teori yang berkaitan dengan perubahan serta peningatan kwalitas dan kwantitas tingkah laku seseorang di berbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dalam lingkungan.


2.    Konsep Dasar Teori Belajar Behavioristik
   Teori belajar behaviorisme adalah suatu teori yang membahas dan menekankan pentingnya perubahan dan pembentukan tingkah laku yang tampak sebagai hasil belajar dari suatu pengalaman. Seiring perkembangannya, teori ini kemudian menjadi aliran psikologi pembelajaran yang mengarah pada pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran sehingga dikenal sebagai aliran behaviorisistik. Teori Behavioristik ini menempatkan pembelajaran sebagai proses keterkaitan antara stimulus yaitu rangsangan dari luar yang mempengaruhi, dan respon, yaitu tindak balas dari rangsangan tersebut, yang dari keterkaitan kedua hal tersebut, terbentuklah hasil proses tersebut berupa perilaku yang tampak atau dapat dilihat, tidak hanya sesuatu yang ada dalam pikiran.
      Keberhasilan teori belajar behavioristik ini berupa perubahan perilaku yang ditunjukkan seseorang setelah mengalami permasalahan di masa lampau. Perubahan inilah yang mengindikasikan bahwa seseorang merespon suatu kejadian dengan menjadikannya sebagai suatu pembelajaran untuk tidak menggunakan respon yang sama di masa yang akan datang. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau permbiasaan semata, munculnya akan semakin berkualitas bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila diberikan hukuman, contohnya dapat dilihat dari pendisiplinan terhadap peserta didik yang terlambat berupa teguran, dan bila dilakukan berkali-kali sebagai kebiasaaan akan dikenai sanksi lebih tegas berupa pemanggilan orang tua.


3.    Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behavioristik
      Terdapat beberapa ahli yang menjadi tokoh dalam teori ini. Setiap tokoh memiliki pendapat berdasarkan pemahamannya masing-masing. Beberapa teoretikus tentang teori belajar behavioristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:



1) Edward Lee Thorndike (31 Agustus 1874 - 9 Agustus 1949) 
    Edward Thorndike merupakan Seorang psikolog berkebangsaan Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Columbia Universty. Thomdike mengartikan teori belajar behavioristik sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah rangsangan, contohnya seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan respon adalah reaksi yang ditunjukkan akibat stimulus Saeful Rahmat, 2019: 31. Dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbul respons yang maksimal. Teori ini juga disebut dengan Teori Trial And Error, dalam teori ini orang yang bisa mengatur hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya, maka dapatkah orang tersebut memberikan orang yang berhasil dalam belajar

2) Ivan Petrovich Pavlov (14 September 1849 - 27 Februari 1936)
     Ivan Pavlov merupakan seorang fisiolog sekaligus dokter asal Rusia. Pavlov dalam pembahasan mengenai teori behavioristik, menggunakan percobaan berupa anjing yang dilakukannya dengan memperlihatkan makanan pada anjing tersebut. Anjing kemudian mengeluarkan air liur yang merupakan stimulus alami dan diasosiasikan dengan keinginan akan makanan tersebut. Percobaan kemudian adalah dengan cara membunyikan lonceng untuk memanggil anjing yang kemudian diperlihatkan makanan. Pada akhirnya, anjing akan menangkap pembelajaran bahwa lonceng memiliki keterkaitan dengan makanan, sehingga ketika Pavlov mencoba membunyikan lonceng yang awalnya digunakan untuk memanggil anjing tersebut, secara otomatis anjing tersebut sudah menanggapi dengan mengeluarkan air liur (Saeful Rahmat, 2019: 32). 

3)  Burrhus Frederic Skinner (20 Maret 1904 - 18 Agustus 1990)
    Burrhus Skinner adalah seorang psikolog dari Amerika yang terkenal akan aliran behaviorismenya. Skinner memiliki pendapat bahwa, "hubungan antara stimulus dengan respon yang ditunjukkan individu atau subyek terjadi melalui interaksi dengan lingkungan". Respon yang ditunjukkan pun tak seluruhnya merupakan hasil dari rangsangan yang ada, tetapi karena interaksi antara stimulus yang menghasilkan respon. Respon menghasilkan konsekuensi akan menghasilkan atau memunculkan perilaku. Dari teori yang dikemukakan thorndike, Skinner kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri dengan memasukkan unsur penguatan kedalam hukum akibat tersebut, yakni perilaku yang dapat menguatkan cenderung diulangi kemunculannya, sedangkan perilaku yang tidak dapat menguatkan cenderung untuk menghilang atau terhapus. Dari sini Skinner dalam teori behaviorisitk melahirkan buah pemikirannya yang dikenal dengan istilah Teori Operant Conditioning. Oleh karena itu Skinner dianggap sebagai bapak operant conditioning (Saeful Rahmat, 2019: 33)

4)  Robert Gagne
     Robert Gagne merupakan seorang ahli psikologi pendidikan. Gagne memiliki pendapatnya sendiri mengenai istilah belajar, yaitu sebagai proses suatu organisasi atau peserta didik berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman yang pernah dialaminya. Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat perubahannya (dari kurang baik menjadi lebih baik). Gagne juga berpendapat bahwa pembelajaran adalah periode terjadinya penerimaan informasi yang kemudian diolah dan dihasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Tahapan proses pembelajaran menurun Gagne dijelaskan dalam beberapa tingkatan, yaitu: (1) motivasi, (2) pemahaman, (3) perolehan; (4) penyimpanan, (5) Ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan, dan (8) umpan balik.

5)   Albert Bandura
     Albert Bandura adalah seorang psikolog lulusan University of British of Columbia yang kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Lowa dan Universitas Stanford. Albert Bandura terkenal akan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), yaitu konsep dalam teori behavioristik yang menekankan komponen kognitif, pikiran, pemahaman, dan evaluasi. Teori Pembelajaran Sosial ini memiliki konsep utama pembelajaran dengan metode pengamatan. Menurut teori ini, perilaku individu bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan

4.    Inti Teori Behavioristik
Berdasarkan uraian di atas, Inti dari teori belajar behavioristik, adalah  
1). Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dari pengalaman.
2). Seseorang dianggap telah belajar jika ia telah mampu menunjukkan perubahan perilaku.
3). Pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran yang berupa respon.
4). Belajar juga merupakan proses pengondisian dari proses pembiasaan.
5). Yang bisa diamati dan diukur hanya stimulus dan respon.
6). Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat perubahannya.
7). Penguatan adalah faktor penting dalam belajar. Bila penguatan ditambah maka respon akan semakin kuat, dan jika respon dikurangi maka respon juga menguat.
8). Perilaku individu bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan. 

5.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik 
      Setiap Teori behaviorisme memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. 
Kelebihan teori behaviorisme adalah sebagai berikut:
1)Teori belajar ini cukup cocok untuk pembelajaran dengan tujuan memiliki kemampuan yang membutuhkan praktik serta pembiasaan disiplin, yang membantu individu dalam belajar berkesinambungan dengan tujuan mereka bisa menerapkan sebaik mungkin.
2)Materi pembelajaran dirancang secara khusus lewat pengalaman.
3). Sesuai dengan pemahaman pendidik pada peserta didik.
4). Perubahan belajar menjadi tolak ukur keberhasilan

Adapun kekurangan teori behaviorisme adalah:
1)Pembelajaran ini terkesan hanya berpusat pada pendidik, bukannya pada peserta didik atau individu yang belajar. Hal ini berpotensi membuat individu yang belajar justru kehilangan kemampuan dan kelebihan alaminya.
2)Pada tipe peserta belajar tertentu, aplikasi teori belajar ini akan menimbulkan kebosanan dan justru membentuknya sebagai pribadi yang pasif karena hanya terus menerima dan menerima, tanpa dilibatkan untuk berpikir dan mengajukan pendapatnya.
3)Kaku dan membosankan (Saeful Rahmat, 2019: 36)


Jadi Kesimpulan dari Teori belajar behavioristik adalah suatu teori yang membahas dan menekankan pentingnya perubahan dan pembentukan tingkah laku yang tampak sebagai hasil belajar dari suatu pengalaman. Ada lima tokoh behavioristik, yang masing-masing memiliki penekanan masing-masing dalam proses pembelajaran yaitu Edward Lee Thorndike dengan Teori Trial And Error, Ivan Pavlov dengan Teori Classical Conditioning, Burrhus Skinner dengan Teori Operant Conditioning, Robert Gagne dengan penerimaan informasi, dan Albert Bandura dengan Teori Pembelajaran Sosial, yang masing-masing teori tersebut bisa diimplementasikan dalam pendidikan.

Proses Belajar Melalui Media Online #tugasPsikologiPendidikan